Kartu Pusaka (Nyeput)

Tradisi Nyeput (Sasak) 

Kartu Pusaka
Masih dengan topik yang sama yaitu tentang Naskah Kuno. Karena beberapa minggu yang lalu, saya pernah menulis sedikit cerita tentang pengalaman saya dan teman-teman dalam mencari naskah kuno tersebut dan membahas sedikit  tentang isinya. Nah, kali ini saya ingin berbagi cerita untuk yang kedua kalinya tentang perjalanan saya untuk melakukan proses Nyeput (semacam ramalan) yang masih dipercaya oleh masyarakat sasak. Ini hanyalah sebuah tradisi dalam masyarakat suku sasak yang mungkin sudah jarang kita temukan. Proses ini boleh dipercaya atau tidak itu tergantung dari pribadi sendiri. Tidak ada paksaan untuk percaya ataupun tidak, semuanya balik pada diri sendiri. Sebelumnya saya akan menceritakan sedikit apa itu “tradisi nyeput”. Tradisi Nyeput adalah tradisi yang dikenal oleh masyarakat sasak khususnya para penggiat naskah kuno. Tradisi ini dapat dikatakan sebagai tradisi untuk memilih salah satu lembar naskah yang berada pada satu takepan, lalu naskah yang kita pilih akan dimaknai oleh si penyeput tersebut. Dikatakan bahwa dari selembar naskah yang kami pilih merupakan sebuah realitas dari kehidupan yang akan maupun saat ini kami alami. 
Minggu lalu tepatnya pada tanggal 10 November 2019, saya berkunjung ke sebuah desa, tepatnya Desa Sayang-Sayang. Di sana saya mengunjungi salah seorang Guru Ngaji yang dapat membantu saya dalam proses penyeputan . Sebenarnya tokoh tersebut tidak ingin untuk melakukan tradisi Nyeput seperti yang kami inginkan. Karena memang untuk melakukan tradisi ini tanggungannya sangat berat. Orang yang melakukan proses penyeputan ini solatnya tidak sah atau tidak diterima selama 40 hari. Oleh sebab itu, saya dan teman-teman merasa tak enak hati. Namun, setelah mengatakan maksud dan tujuan kami yang sebenarnya akhirnya si Guru ( papuq Marini)  tersebut setuju untuk membantu saya dan teman-teman.
Sebelum memulai tradisi penyeputan kami harus mengatahui tata caranya terlebih dahulu, di sini kami menggunakan sebuah naskah yang berjudul Kartu Pusaka.
Cara mengerjakan
Kartu pusaka 12 terlampir digunting menjadi 12 angka 1 sampai dengan 6 duakali, kemudian dengan angka-angka tersebut akan dipilih tanpa melihat angka oleh orang yang berkepentingan dengan hasrat atau menyatakan pertanyaan diantara 25 macam tersebut. Disebaliknya pagina ini, dan seterusnya 2 angka tersebut ajan dapat ramalan suatu jawaban dari pagina 5 sampai 25.
Umpamanya pertanyaan No 2 apakah cinta atau tidak?  Dan setelah mengambil angka mendapat angka 3 dan 4 maka mendapat ramalan jawabannya pada pagina 1 no 2. Ia cinta sampai mati, maka hormatilah, begitu sampai seterusnya.
Yang perlu diperhatikan adalah untuk menghindari diri dari pengaruh ghaib dalam mengerjakan kartu 12 pusaka. Setiap orang tidak boleh melakukan proses pencabutan atau bertanya lebih dari 3 kali, pencabutan boleh dilakukan kembali setelah 7 hari.  Jika peringatan tersebut tidak diindahkan maka jangan heran jika mendapat pengaruh ghaib. 

Setelah mengetahui tata cara penyeputan, kami pun diberikan sebuah kertas bergulung sebanyak 12 butir yang dimana kami harus memilih 2 dari 12 butir tersebut. Namun, sebelum memilih kertas bergulung(semacam lot) ini, kita terlebih dahulu harus memilih dan memasang niat yang memang sesuai dengan apa yang diinginkan. 
Niat yang dipilih
Ada 25 pilihan yang dapat dipilih salah satunya, setelah memantapkan niat barulah kita dapat mengambil lot tersebut. Kebetulan saya mendapat giliran ke-4 dari ke-7 teman saya. Kita diizinkan untuk mengambil 3 kali putaran mengambil lot. Pertama, saya memasang niat tentang bagaimana akan penghidupanku dan jawaban yang saya dapatkan dari naskah tersebut adalah bahwa saya harus menikmati kehidupan saya saat ini, jalani dan nikmati. Pencabutan kedua mungkin di sini tidak saya ceritakan karena sifatnya lebih privasi. Pencabutan ketiga, saya memasang niat tentang bagaimana akan rezeki dan jawaban yang saya dapatkan dari naskah tersebut adalah bahwa satu tahun ke depan akan ada, tetapi jumlahnya dengan skala yang kecil. 
Saya menggunakan pendekatan pragmatik ini memandang bagaimana suatu karya sastra sebagai saran untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Karena, dari jawaban atas pertanyaan saya pun bisa kita lihat melalui jawabannya, di sana bagaimana ia berusaha untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembaca. Dapat juga dengan pendekatan Mimetik dalam mengaitkan proses penyeputan ini. Karena, seperti yang saya ketahui bahwa pendekatan ini berupaya memahami hubungan karya sastra (naskah kuno “ramalan/nyeput”) ini dengan realitas/kenyataan. Bisa saya lihat dari bagaimana respon teman-teman termasuk saya sendiri yang sudah melakukan penyeputan, bahwa saya maupun mereka mulai menghubung-hubungkan ramalan tersebut dengan realitas kehidupan yang memang saat ini dialami dan bagaimana kedepannya. 
Pesan dari si Guru tersebut adalah jangan berpatok pada jawaban yang diberikan oleh naskah tersebut. Naskah ini hanya sebagai perantara tetaplah meminta kepada Allah swt, karena sesungguhnya sebaik-baik perencana dan yang Maha Mengetahui segalanya hanyalah Allah swt.

Semoga bermanfaat, 
Terimakasih ! 

Komentar

  1. Bagus banget, penggunaan tanda baca jg digunakan dngn baik.

    BalasHapus
  2. Sangat benar-benar menarik dan luar biasaπŸ‘

    BalasHapus
  3. Sangat bermanfaat, menambah wawasan dan pengetahuan πŸ‘

    BalasHapus
  4. Sudah mantap πŸ‘ tinggal bagaimana kami sebagai generasi muda menaggapi mengenai naskah kuno ini, atau mungkin bisa dibuatkan juga blognya πŸ˜‚ tetap pertahankan membuat blog bermanfaat seperti ini. Thanks

    BalasHapus
  5. Sangat bagus dan Bisaaaa menambah pengetahuan tentang masa" kuno atau masa lalu ... Tingkatkan lagii kπŸ‘

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah Kuno ( Takepan, Pepaosan)